in search of the truth within


My New Blog
November 29, 2008, 3:54 am
Filed under: Uncategorized

Dear Friends,

I’m writing at my new blog at

http://yuzenho.blogspot.com/

Feel free to come and visit the new blogspot

Enjoy,

Iben



Staying or Leaving…?
September 11, 2008, 9:31 am
Filed under: Uncategorized

You do not need to leave your room. Remain sitting at your table and listen. Do not even listen, simply wait, be quiet, still and solitary. The world will freely offer itself to you to be unmasked, it has no choice, it will roll in ecstasy at your feet.Franz Kafka (1883 - 1924)

  

 

Pergi atau tetap disini, gitu kali ya kira2 terjemahan judul artikel di atas. Semua orang juga tahu kalau hidup adalah pilihan. Ironisnya, saya sendiri merasa dulu tidak pernah memilih untuk dilahirkan ke dunia. Seperti kata Kafka di atas, actually it has no choice. But well, udah lah ya… here I am, breathing on the surface of the earth in confusion he heh. Face it guys, here we are, terdampar di dunia yang penuh dengan pilihan, rangkaian detik demi detik yang senantiasa menuntut kita untuk mengambil keputusan, sadar atau tidak, mau tidak mau, memilih hampir menjadi rutinitas, mungkin nomor dua tersering yang kita lakukan setelah bernafas.

  which one to go my friend?

Kemb

ali ke judul di atas, “Pergi atau Bertahan”, adalah salah satu pilihan yang paling sering dihadapi oleh anak manusia. Dalam konteks apapun, kita sering menemui kebingungan untuk melangkah pergi atau tetap bergeming. Dalam berhubungan (pacaran atau pernikahan), kita sering diombang-ambing dalam ketidaktentuan antara mempertahankan atau melepaskan orang yang kita sayangi untuk kemudian beranjak pergi, melangkah maju. Dalam pekerjaan, kita juga sering merasa gerah ingin pindah sementara di sisi yang lain juga ada tuntutan untuk tetap bertahan. Dalam bersekolah dan menuntut ilmu, dalam meraih cita-cita, dalam menyongsong masa depan, kita sangat sering dihadapkan pada kondisi persimpangan ketika adrenalin dan jantung kita memompa darah lebih kencang, memaksa kita untuk berani memutuskan, melangkah maju atau tetap bertahan disini.

 

Jalan di depan sering mengandung misteri, ketidakpastian, ketidak jelasan tetapi juga biasanya memberikan janji akan harapan, tantangan dan kebebasan. Sementara tetap diam, bukan selalu berarti kenyamanan. Ia juga sering diiringi oleh pengorbanan, penderitaan, dan kadang-kadang dicap sebagai sebuah bentuk kepengecutan.

 

Dalam kontinuum kehidupan saya yang chaotic ini, sudah berkali-kali saya menemui persimpangan pilihan dengan papan arah bertuliskan “Staying” yang menunjuk ke suatu arah jalur kehidupan dan satu papan lagi bertuliskan “Leaving” yang menunjuk ke arah jalur yang berlawanan. Sepanjang ingatan saya, saya adalah sesorang yang selalu memilih jalur yang ditunjukkan oleh papan yang bertuliskan “Leaving”. Predictable huh…?

 

I left my parents and live separately from them di usia yang sangat dini, usia 15 tahun saya memutuskan bersekolah dan hidup nge-kos di bandung, meninggalkan kenyaman hidup dalam eraman ibunda dan ayah di Palembang. Saya gak terlalu ingat, keberanian atau motivasi apa yang membuat Iben kecil mengambil pilihan untuk pergi waktu itu, yang saya ingat hanyalah ‘saat itu saya tahu saya harus pergi’.

 

Selepas SMA saya sempat berkuliah di jurusan Teknik Informatika di STT Telkom selama beberapa minggu saja, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk pergi meninggalkan asrama dan masa orientasi mahasiswa baru disana untuk melangkah pergi menuju Bogor, kota antah berantah bagi saya waktu itu. Sesampainya di Bogor saya ingat saya mengantri di Gedung Graha Widya Wisuda IPB Darmaga, mengambil formulir bersama-sama dengan ribuan wajah polos lainnya yang sebagian besar, saya yakin, mereka juga tak benar-benar tau kenapa mereka ada disana. Berdesak2an mengambil tiket pergi menuju jalur kehidupan yang entah kemana ha ha… Saya salah satu di antara mereka, calon mahasiswa jurusan pertanian yang berpikir bisa melakukan sesuatu untuk dunia. Naif dan idealis. Dua kombinasi kata yang membentuk sifat yang dikenal orang sebagai “bodoh”.

 

Fragmen lain setelah kelulusan kuliah S1: Rekrutmen manajer di Unilever, bertanya kepada saya, sebelum menyodorkan Offering Letter untuk saya tanda tangan, sesaat sebelum saya resmi menjadi karyawan untuk pertama kalinya. “Ben, dua direktur siap nampung kamu di divisinya, tapi kamu harus pilih salah satu: ‘Marketing’ atau ‘Human Resources’? Jawaban saya waktu itu tidak usah ditulis disini, seluruh dunia juga sekarang tahu kalau saya kini terjerumus di dunia HR, dunia menarik yang tidak pernah sceara sadar saya pilih, dan herannya saya cukup menyukainya dan menemukan banyak hal menakjubkan disini. Well jadi ngelantur, tapi yang mau saya ceritain sebenarnya setahun setelah saya menandatangani kontrak itu, saya lagi-lagi memilih untuk pergi dari Unilever instead of staying, itu mungkin salah satu keputusan pergi yang cukup berat untuk saya ambil for the very first time in my life. Leaving was always an easy decision for me… Until that Moment!. But then, I did, I left, I seek for my freedom, and I got out from the mechanic life in Unilever Factory, it’s not that I don’t like it though, I really like it (setelah saya pikir2). Tapi mirip seperti kata bung karno, bangsa Indonesia cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan! Lho apa hubungannya ya? :) Tapi ya kira2 gitulah. Waktu itu saya masih terlalu muda dan haus akan kebebasan, lebih dari apapun, dan siap mengorbankan apapun. Mengingatkan kita akan karakter setiap diri kita yang pernah menjadi muda dan hijau bukan?

 

Selepas Unilever, saya bergabung dgn Nestle, (baca: nes-le, bukan nes-tel (tanpa bermaksud meremehkan daya intelegensi pembaca J), dua tahun disana, hidup lantas kembali mengantarkan saya sampai di persimpangan yang kurang lebih sama: saya mendapat promosi dalam pekerjaan, dan dalam waktu yang bersamaan saya juga mendapat tawaran beasiswa untuk kuliah S2 dari Sampeorna Foundation. Saya dihadapkan pada pilihan harus bertahan bekerja dengan tawaran karir yang menjanjikan, atau meninggalkan semua kenyamanan hidup sebagai eksekutif muda dan kembali menjadi mahasiswa miskin dengan subsidi living cost beasiswa yang pas-pasan? If you know me that well, you know what I chose, satu tahun lebih setelah persimpangan itu saya sudah asyik menyusuri jalanan kota bandung yang sejuk dengan motor tua, jins robek dan sepatu converse butut, kuliah lagi, menuntut ilmu di ITB, meninggalkan semua yang bisa saja saya raih demi (lagi-lagi-sejujurnya) kebebasan dan kata hati.

 

Selepas studi S2 saya bergabung dengan Danamon, one of the fastest growing bank in this country, dengan segala dinamikanya, kompleksitas bank yang mempekerjakan hampir 40.000 karyawan dan situasi lansekap industri yang sedang kembali menggeliat bangkit dan dihadapkan pada kelangkaan suplai sumber daya manusia yang siap pakai di dunia banking, bekerja di sini tidaklah sedamai dan seindah pengalaman saya sebelumnya ketika bekerja di perusahaan yang lebih establish dan kokoh seperti Unilever dan Nestle. Lalu sesuai judul artikel ini, hasrat untuk pergi pun muncul kembali, gayung bersambut, dan Tuhan sepertinya ingin menguji saya, kesempatan untuk bekerja di perusahaan multinasional yang lain kembali datang, tentunya dengan tawaran gaji berlipat dan suasana kerja yang  less turbulence. Ada beberapa detail lain yang saya pikir akan terlalu kompleks untuk diceritakan disini, tapi intinya saya baru-baru ini kembali dihadapkan pada ‘the same old story’, persimpangan jalan yang pernah saya lewati sebelumnya, nuansa keputusan yang serupa, spiral kehidupan yang berulang, “staying or leaving…” “which one to take now Iben?” Life asked me once again.

 

Setelah melalui proses kontemplasi panjang yang diwarnai dengan tumbangnya saya selama semingu di RS Medistra. Akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan yang lain dari biasanya, saya mendarat di sebuah tanah terjanjikan yang baru, jalur yang hampir tidak pernah saya ambil sebelumnya, boro-boro, selama ini keputusan untuk stay tidak pernah saya perhitungkan dan lirik sebelumnya. Yup, you can guess, I decided to stay! I decided to take a route that I never took before, sebuah pilihan yang bisa dibilang “Nggak Gue Banget!”. Even beberapa minggu setelah saya memutuskan untuk tidak pergi, saya masih sering merasa I took a wrong way, that I have turned out to be a ‘chicken’, I have changed, I am not the man I used to be, I am not me, saya telah mengkhianati keberanian saya, diri saya yang sejati, yang selalu mampu untuk mengorbankan apapun yang saya miliki, demi kebebasan, demi membuka sebuah area gelap, penuh misteri, jalur kehidupan yang dengan plang berjudul “pergi”.

 

Inti sari dari semua omong kosong saya ini, kawan, dalam hidup, kita tidak berjalan dengan rumus pasti, tidak hanya dengan satu pola tertentu. Kadang-kadang menjadi berani bukan hanya berarti berani untuk pergi, keputusan untuk tetap bertahan juga membutuhkan sebentuk keberanian tersendiri. Ia menguji daya tahan kita, kekuatan untuk bersabar, untuk menghadapi masalah dan memecahkannya, bukan semerta-merta meninggalkannya dan pergi, lalu bersembunyi sambil menghibur diri di balik kredo “kebebasan”. Kadang-kadang kebebasan ternyata hanyalah sebentuk pemenuhan ego pribadi. Kebebasan semu, ilusi. Kita juga harus menyadari, Kita hidup tidak sendiri, walaupun kita tidak meminta, kita hidup dengan tanggung jawab yang melekat dalam atribut kemanusiaan kita, kewajiban terhadap orang-orang yang ada disekeliling kita, orang-orang yang kita cintai. Pengorbanan bukan hanya berarti kita mampu meninggalkan semua godaan duniawi dan materi seperti, gaji dan fasilitas yang selama ini selalu saya korbankan dan tinggalkan. Tapi pengorbanan juga sering berarti, kemampuan kita untuk menelan ego, meredam keinginan, menahan dahaga kita akan kebebasan yang tidak akan penah ada habisnya, seperti berpuasa, bertahan or staying adalah juga berarti kemampuan menahan diri, kemampuan mengalah untuk menang.

 

Tulisan ini didedikasikan untuk semua yang tengah berada di persimpangan ini, apapun itu bentuknya, yang kurang lebih menggedor hidup kita yang nyaman ke dalam turbulensi pilihan antara “Bertahan atau Pergi” Seperti dalam sebuah percakapan dengan teman saya yang baru-baru ini mengambil keputusan berani untuk “Pergi”. Saya akan katakan, tidak ada benar atau salah kawan, pada akhirnya kontinuum kehidupan toh akan mebawa kita ke titik dimana kita seharusnya berada, tidak usah khawatir selama kita mencoba mendengarkan suara hati kita dan suara semesta. Whatever you choose my dear friend, it’s gonna be the right thing, me and the rest of the world will be proud of you. Go on… take your course, whre your loving heart choose, you’ll be okay. God willing, the universe know you will be just fine.

 

p.s. Thanks for the people whose loves have given me a new perspective in living this life and has taught me the meaning of having the courage to stay. You made me stay, and I will stay the way love has taught us to stay. Kalau hanya ada satu alasan kenapa kita harus bertahan atau kita harus pergi, pastikan alasan itu adalah karena cinta. It’s the only guide that will lead us to the right path, the right decision. Because Love will never lie. 

Jkt, 23:27 pm, 11/09/08.



Life As A Coffee
July 15, 2008, 11:58 pm
Filed under: Uncategorized

Yinyangcoffee

I surfed and find this passage from a blog. Please enjoy…

A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university Professor.

Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.

Offering his guests coffee, the Prof. went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups:
porcelain, plastic, glass, some plain-looking and some expensive and exquisite, telling them to help themselves to hot coffee.

When all the students had a cup of coffee in hand, the Prof. said "If you noticed, all the nice-looking, expensive cups were taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is but normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress. That all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the better cups and are eyeing each other’s cups."

"Now, if Life is coffee, then the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life, but the quality of Life doesn’t change. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee in it."

So friend, don’t let the cups drive you…enjoy the coffee instead.



Epiphany
January 5, 2008, 8:14 pm
Filed under: Uncategorized

Img_0412
“we’ve got motions down, and we all have the moon and the rainy clouds..
We need to realize that only love, is what we all are living for…


- Lyrics from Song Titled “Epiphany” by “The Send”-

Oedipus, ksatria dalam mitologi yunani, menjadi raja tanpa menyadari ia telah membunuh ayahnya dan mempermaisuri ibu kandungnya sendiri. Ketika akhirnya ia mengalami epiphany, ia menyadari semuanya dan menjadi gila. Ia lantas membutakan kedua matanya sendiri, queen jacosta ibunya bahkan lebih tragis nasibnya, mati menggantung dirinya sendiri. Freud mengabadikan namanya sebagai sebuah fenomena psikologi.

Homer, dalam The Simpsons –The Movie, dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan pernikahannya, keluarganya dan kampung halamannya springfield atau memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja dengan mengucilkan diri di persembunyiannya di Alaska. Berkat seorang nenek indian eskimo, ia mengalami epiphany. Homer, manusia kuning lucu berambut tiga helai yang  clumsy dan sloppy itupun akhirnya menyadari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga dan warga springfield yang baik.

“An epiphany can be described as a moment of self-realization or discovery that enlightens or reveals the person’s character. Epiphany is rooted in the Greek word epiphania which translates to manifestation. As used in modern fiction, philosophy and psychology, an epiphany is the manifestation of self-truths”

Epiphany, kata yang manis, dalam literatur kristiani, epiphany adalah nama sebuah hari perayaan yang jatuh di tanggal 6 Januari, hari yang diyakini sebagian umat kristen ortodhox sebagai hari kelahiran Isa. Karenanya banyak kaum ortodhox yang merayakan natal di tanggal 6 january dan bukannya tgl 25 Desember seperti yang umum dilakukan sekarang. Secara lebih dalam, epiphany diyakini sebagai hari manifestasi Isa akan kerasulannya, ketika kenabiannya diakui oleh kaum Magi, para peziarah kuno yang melacak kelahiran Isa dengan mengikuti jejak bintang hingga ke betlehem.

Epiphany, manifestasi, mungkin merupakan pengalaman yang sama yang terjadi pada Buddha, ketika ia mengalami pencerahan di bawah pohon boddhisatwa, ketika Buddha berhasil menarik dirinya keluar dari lingkaran penderitaan akibat kerakusan manusia akan dunia yang disebut “samsara”. Ketika Buddha berhasil mencapai pintu realisasi diri itu, dan secara konsisten berajalan dijalurnya, ia pun mampu mencapai nirvana.

Epiphany, apakah itu adalah manifestasi yang sama, ketika seluruh tubuh Muhammad bergetar hebat, menggigil dingin, berlari ketakutan dari gua hira tempat ia menyepi lalu meringkuk berselimut di samping istrinya Khadijah. Momen ketika jibril menyampaikan misi besar yang harus diembannya untuk menjadi rasul akhir zaman, penyampai wahyu ilahiah untuk memperbaiki akhlak manusia, dari jazirah arab hingga keseluruh penjuru bumi.

Ada banyak cerita, definisi dan teori tentang epiphany, tapi bagi saya sendiri epiphany adalah suatu pagi yang merekah indah yang saya alami di Batu Bulan, desa Lubuk Baji, Borneo. Satu diantara sedikit momen dalam hidup dimana saya bisa merasakan keberadaan dan arti kehadiran diri. Momen born-neo (kelahiran kembali). Momen pembuka mata yang membuat saya satu langkah lebih mengerti mengenai siapa diri saya, mengapa saya disini dan kemana saya akan menuju.

(Photo courtesy of Iben Y. Ismarson - Sunrise in Batu Bulan)
Img_0418

Oh my love… for the first time in my life. My eyes can see… (John Lennon)

-For my epiphania-

So, tell me friends, have you ever experienced your own epiphanies?



Another World is Possible!
January 3, 2008, 3:59 pm
Filed under: Uncategorized

In the peripheral of Borneo Rain Forest, in Sukadana,
a small city near Karimata trait, along the seashore of West Kalimantan- one of the last places where orangutans still live. There lies a hidden pearl named Klinik Alam Sehat Lestari (Environment and Health Everlasting).  The clinic was founded a year ago, by an American doctor, named dr. Kinari Webb.

 

Img_0433_1
I first met her, just before sunset in Pulau Datuk Beach, the warm dr. Kinari and her British husband Dr. Cam Webb offer me to join them with their small wooden boat into the sea. The light and the waves are friendly and as humble as the couple. While we enjoy the sunset wind breeze in Pulau Datuk beach, we have short chat and yet it was a meaningful one.

 

Their organization called "Health in Harmony", it has a vision of integrating essential medical care with environmental protection strategies for the threatened rainforest and the animals live in it.

Dr. Webb first developed the vision for this work when studying orangutans in 1993 at Gunung Palung National Park. There she encountered not only a beautiful and threatened natural environment but also the dire health needs of the people surrounding the National Park.


Img_0477


In parts of West Kalimantan 25% of children die before age five, mothers often die in childbirth, and even "simple" injuries like a cut on the hand can lead to death without access to tetanus shots or antibiotics. After her experience in Indonesia, Kinari decided to become a physician and return to Indonesia to work together with local communities to improve both their health and preserve the natural environment. Dr. Webb graduated from Yale University School of Medicine with honors and then completed her residency in Family Medicine at Contra Costa Regional Medical Center in Martinez, California. Dr. Webb has traveled to Indonesia numerous times since 1993 to study orangutans, do research on child mortality and malnutrition, and work as a physician.


She responded soon after the tsunami in Aceh and was one of the few foreign physicians there who spoke Indonesian. Cam Webb, her husband who she met in Indonesia and who specializes in Bornean rain forest trees and now works with Harvard University and the Center for Tropical Forest Studies in Indonesia. Cam Webb is an integral part of this work through his support and technical expertise.


Img_0434

The clinic has 3 doctors, 1 dentist and 2 Conservationists. Local people who came for cured aren’t obliged to pay cash, the clinic is developing a system where people can "pay" for their health care by supporting and working on environmentally sensitive income-generating projects such as reforestation or organic gardening at an organic farm located near the clinic.  People can also exchange the health service they receive in the clinic with materials such as kompos, dedak, sekam, kulit telur (egg skin), bamboo or flowers for the organic garden.


It’s a choice in life, to live deep down in borneo, when so many option to enjoy so many luxuries and comfortness of life is on their hands.  Dr. Kinari has not only taught me about the relation between human diseases and environmental destruction, more than that she has taught me about caring, living in harmony, and stand up for your dreams and what you believe in. She is the living proof that in life we all have a choice and the life we’re living now is not only path that we have. We all have choices in life, and we have to believe that  for each and everyone of us Another World is Possible!

For more info about dr. Kinari Webb and her works please visit: www.healthinharmony.org



Pelukan Sungai
January 3, 2008, 5:04 am
Filed under: Uncategorized

Img_0062

Dibentang sungai
selebar rentang seribu lengan, aku terkesima…

Ini bukan
waktunya untuk berpikir, Ini adalah saatnya untuk merasa…

 

Diapit vegetasi
nipah dan ratusan pepohonan yang aku tak tahu namanya, aku terpana…

Ini bukan ruang untuk logika, Ini adalah singgasana untuk cinta…

 

Img_0106

Diujung garis
tepian yang beririsan dengan awan, aku takjub… tunduk…

Ini bukan
waktunya untuk berpikir, Ini adalah saatnya untuk merasa…

 

Img_0275

Jangan kau cari
kedamaian disini kawan, niscaya tak akan kau temukan…

Karena kau tengah
berada tepat di dalamnya!

 

Tempat ini memang
bukan surga, tetapi kurasa ini adalah semacam nirwana.

Tawar airnya
adalah penawar segala lara.

 Img_0070

Manusia disini
tidak pernah mengenal kebebasan,

Seperti layaknya
ikan yang tak pernah menganal apa itu air.

 

Melebar,
berkelok, menyusut, meliuk, lalu sampai ke muara

Kesendirianku larut
dalam terpa angin dan percik air. Aku lebur…

 

Diayun arus,
ditimang gelombang, aku terpejam…

tiba-tiba aku
merasa berada dalam gendongan ibuku,

 Img_0085_1

Aku merasa sangat
nyaman…

Dalam pelukan
sungai, rinduku tunai.

 


 

Aku merasa sangat
tenang…

Dalam buainya,
ambisiku usai.

 

Disini bukan
tempat memuja, disini tak ada hamba.

Di sungai ini,
semua makhluk adalah raja…

 

-Dari alur sebuah
sungai pada sebuah titik ruang dan waktu di borneo-

(All Photographs are courtesy of Iben Y. Ismarson)



Borneo: A Journey Into Me
December 27, 2007, 1:31 pm
Filed under: Travel

Kalau saja manusia mau sejenak berhenti dan merenungi alam sedikit lebih lama, maka ia akan mendengarkan semua suara jiwanya dan mampu menuliskan segala puisi yang ada di dalam hatinya. –anonymous-

Estimated Departure Time : 05.00 WIB, 28 Dec 07

Destination : Borneo

Map
Ke dalam jantung Indonesia aku kan menuju, ke tempat dimana rawa, sungai, pantai dan hutan adalah sukma, tempat jiwa dan raga mengalir dan bersetubuh dalam nama-Nya. Bukan mencari orangutan atau bekantan, hanya mencari kemurnian hati yang seringkali dengan atau tanpa sadar kuburamkan noda dosa kota.

Sedikit keluar dari kepenatan Jakarta, dari detaknya yang menggebu, irama kompetisi dan ego pribadi. Mencoba mencari irama dan frekuensi waktu dan alam yang bersahaja. Melambatkan langkah, menyatu ke dalam harmoni ibu bumi. Mencoba menjauh dari kebisingan untuk mendengar kembali suara jiwa. Hanya satu cara untuk tidak melupakan siapa diriku yang sejati, aku yang sesungguhnya, sebenar-benarnya nyata.

Aku akan menyusuri sungai jiwa, merasa… melebur bersama ruang dan waktu yang infinit. Tanpa batas, kembali membuka catatan-catatan yang sudah lama tertulis dalam buku kehidupan. Membaca rencanaNya, mendengarkan tandaNya, menuju petunjuk-Nya. Di dalam rimba borneo, semuanya tak ada. Di antara serasah dan nyanyian semesta hutan, semuanya menjadi ada.

Jakarta, 28 Dec 07. 04.00

Dalam satu jam lagi aku akan berangkat ke sukarno hatta, flight pertama menuju pontianak. Dari pontianak, aku harus menuju pelabuhan rasau, naik ojek kata kawanku yang akan memanduku di kedalaman hutan taman nasional gunung palung. Dari rasau aku akan menyusuri pantai barat borneo selama 5 jam menuju port melano, ketapang. Dari ibukota kabupaten itulah sana aku akan masuk ke dalam hutan borneo.

Sudah seminggu sejak idul adha, aku begitu excited to do this trip, a journey into the real me, begitu aku menjudulinya. Karena yang aku cari di dalam hutan borneo bukanlah hutannya dan segala isinya, aku mencari diriku sendiri. Alam adalah tempat refleksinya, cermin jiwa yang tidak bisa disediakan oleh kota dan segala kemewahannya serta kesemrawutannya. Tetapi entah mengapa, di detik-detik akhir menjelang keberangkatan yang aku rasakan adalah sedikit perpaduan antara rasa sedih dan rasa takut. Aku tentu sedih bukan karena akan meninggalkan zona nyamanku, tetapi aku sedih karena aku bisa merasakan sedikit getaran frekuensi bahwa aku akan meninggalkan orang-orang yang aku sayang dan cintai. Pergi seorang diri memang seringkali menjadikan perasaan yang seringkali tidak terlalu kita hiraukan menjadi jauh lebih kentara, ya… aku bisa merasakan rasa itu, rasa cinta, rasa yang jarang sekali aku pikir aku miliki.

Perasaan yang lain, rasa takut, entah mengapa tiba-tiba muncul, aku bukannya takut menghadapi rimba kalimantan, aku tidak takut akan apapun selain Tuhan. Tetapi aku tidak mau munafik bahwa bagian pengecut dalam diriku sedang bekerja, ini tandanya aku masih manusia, insting bertahan hidup dalam bentuk sedikit penolakan untuk meninggalkan suasana aman masih merupakan sensor yang berdenyut nyala. Aku kini merasa kecil, aku merasa fragile, aku merasa aku adalah tulang dan daging yang bisa remuk redam sewaktu-waktu. Aku adalah makhluk Tuhan yang kapan saja bisa mati. Aku tiba-tiba melupakan rasa angkuh yang aku sandang setiap hari. I am a non ego, I am no one.

Aku belum lagi pergi, tetapi perjalanan ini sudah kembali mengingatkanku pada dua rasa yang merupakan modal dasar kita sebagai manusia untuk dapat menjalani hidup. Rasa CINTA dan kesadaran akan KEMATIAN. Ah… kalau saja semua manusia di dunia ini mengingat dua hal itu, setiap harinya, setiap detiknya, untuk memandu setiap langkahnya, aku yakin masyarakat kita akan menjadi suatu entitas yang lebih baik.

Semoga, semoga… aku akan mndapat lebih banyak pelajaran ketika aku kembali. Daoakan saya sehat dan selamat dalam perjalanan. Kembali denggan sepotong pesan, apapun itu isinya, dari dalam rimba borneo untuk kehidupan Jakarta.

Estimated Arrival Time: 12.00 WIB, 31 Dec 2007.

Destination : Jakarta



I Am Legend
December 23, 2007, 11:59 pm
Filed under: Uncategorized

This is a piece of interesting Will Smith’s interview on NBC with Tavis Smiley, airdate December 13, 2007.

693

Tavis: So when I see Will Smith saying, "I Am Legend," I’m thinking, this
is Will Smith. I am legend. You are really becoming an iconic figure.
What do you make of that?

   

Smith: It’s what
my grandmother told me I had to do. I was sitting with Tyrese a couple
weeks ago, just coming off "The Transformers" with him, just about the
business and just really, he and I get on the same wavelength so I
could be of some assistance, if I can. And there’s a concept that I
don’t want to be an icon. I want to be an idea. I want to represent an
idea.

   

I want to represent possibilities. I want to represent
magic, right, that you’re in a universe, and two plus two equals four.
Two plus two only equals four if you accept that two plus two equals
four. Two plus two is going to be what I want it to be. And there’s a
redemptive power that making a choice has, rather than feeling like
you’re at effect to all the things that are happening.

   

Make a
choice. Like you just decide what it’s going to be, who you’re going to
be, how you’re going to do it. Just decide, and then from that point,
the universe is going to get out your way. It’s water; it wants to move
and go around stuff. So for me, I want to represent possibilities. I
want to represent the idea that you really can make what you want.

   

One
of my favorite books is "The Alchemist," Paulo Coelho, and I just
believe that. I believe that I can create whatever I want to create. If
I can put my head on it right, study it, learn the patterns, and - it’s
hard to put into words, it’s real metaphysical, esoteric nonsense, but
I feel very strongly that we are who we choose to be.

   

Tavis:
First of all, that’s not mumbo-jumbo. It makes sense, number one.
Number two, I think sales of "The Alchemist" just went up. (Laughter)
Whatever that book is, sales just went up on Amazon.com right about
now. If that happens, I’m going to call you and say, "Will, I wasn’t
lying. It really went up."

   

Smith: No, it’s great. It’s a quick read, too.

   

Tavis: If you can spell "Alchemist." (Laughter) That’s a good Scrabble word, alchemist, yeah.

   

Smith:
No, but the alchemist - like I consider myself an alchemist. An
alchemist is basically a mystical chemist, right? And one of the great
feats that alchemists used to do is they would take lead - just take a
chunk of lead - and they could turn lead into gold, right? So the
symbolism -

   

Tavis: That sounds like a good hustle. (Laughter) When I leave here, get me some lead.

   

Smith: I’m gonna get me some lead.

   

Tavis: Exactly.

   

Smith:
But I so connected to symbolically being able to turn lead into gold.
My grandmother used to say, "Life give you a lemon, you go ahead and
make lemonade." To me, that’s alchemy; that’s the same concept behind
"The Alchemist."

_______________________________
Read the full interview on below link:
http://www.pbs.org/kcet/tavissmiley/archive/200712/20071213_smith.html



smile of little angels
December 1, 2007, 7:55 am
Filed under: Uncategorized

A friend of mine send me an sms this morning:

“buy 1 choco bar or a handful of candy then give it to lil
boy or girl that u meet when u walk on the street. w/ a big smile. (hav a nice
day =>)

Choco_bar

So today I wake up and I have a mission to fulfill.

Today could be considered a day outside the boring script
that I write every morning.

I stop on a circle K outlet on my way to Bandung.

Instead of buying 1 choco bar, I bought 5 different chocos!

I gave 2 bars for 2 little girls struck me while running in
front of my friend’s house.

1 for a little boy sitting sadly on a trotoar. And the
last one randomly for a boy singing in a traffic light in dago street.

Here are some of their smiles, smiles of little angels:
Angels_1

Captured and Dedicated to Paulo Coelho and Hot_vanka, two
persons that remind me to keep on doing something ridiculous but out of ordinary
everyday.

Thanks =D



Kakek Tua Gila yang Sudah Tidak Ingin Bahagia
November 22, 2007, 9:48 am
Filed under: Uncategorized

Lagi iseng baca bulletin board temen, ada pertanyaan dan
jawaban yang sekilas biasa, tapi kalo dipikir2 menarik juga:

4. Apa yang kamu cari dalam hidup?
>> Kebahagiaan lah… apa lagi.

Jadi kepikiran, kayanya dari 10 orang yang ditanya mau
apa dalam hidup?  Besar kemungkinan 9 orang
bakal jawab: ”mau bahagia!”

Kita jawab dengan spontan tanpa pernah berpikir, bahwa
bahagia adalah sebuah konsep yang sama buram dan semunya dengan cinta.

Kenapa gw bilang buram? Karena gw yakin dari 1000 orang
yang ditanya tentang apa itu bahagia, mungkin kita akan mendapati 1000 definisi
yang berbeda tentang seperti apa itu menjadi bahagia. Sama ketika kita minta
dijelaskan tentang cinta, semakin banyak yang menjelaskan, kita akan mendapati
semakin bingunglah diri kita.

Makanya, gw pikir orang orang yang hidup untuk mencari
kebahagiaan, hanya akan menjadi manusia-manusia yang bingung. Kenapa karena
mereka hanya akan mencari suatu titik yang sebenarnya sangat relatif.  Semu!

Dulu waktu gw masih jalan kaki, gw mikir kayanya bahagia
kalo punya motor.
Pas punya motor, keujanan, mulai mikir kayanya enak kalo
punya mobil.
Udah naik mobil, terus papasan ama ferarri atau
maseratti, baru deh kerasa… idup kalo mau ngikutin definisi bahagia… gak
bakal ada habisnya. Soalnya definisi itu bakal selalu berubah.

Satu lagi yang membuat ingin bahagia itu berbahaya,
adalah orang sering kali gak nyadar bahwa ketika kita ”menerima” konsep bahagia,
berarti kita juga musti menerima konsep tidak bahagia. Sama seperti orang yang
menerima konsep gelap, maka dia harus menerima konsep terang. Udah hukumnya
bahwa segala sesuatu itu diciptakan dengan pasangannya.

Sayangnya orang yang secara gak sadar sejak kecil menelan
mentah mentah konsep hidup bahagia, gak dibarengin peringatan besar bahwa itu berarti mereka harus juga siap
menelan konsep ketidakbahagiaan.

Mentang-mentang tau rasanya bahagia enak, kita lantas
selalu menghindari atau menjadi frustasi saat ketidakbahagiaan datang.

Sekali udah enak maunya selalu enak. Makanya demi
mencegah jangan sampe ngerasa ngga’ enak, kalau perlu ngorbanin orang lain, ya
korbanin aja. Yang penting gw enak. Bukankah itu yang terjadi di masyarakat
kita ya? Banyak orang yang maunya enak doang. Orang-orang yang hidupnya
mengejar kebahagiaan. Motonya: Sekali bahagia tetap bahagia. Lalu menutup mata,
dan mengesampingkan bahwa ada yang namanya ketidakbahagiaan. Pola berpikirnya
kurang lebih seperti ini: ”Puntung rokok, buang aja ke jalan daripada ngotorin
mobil gw! Toh ntar juga ada yang ngambil, yang penting mobil gw gak kotor!”

Parahnya, buat mereka, tidak bahagia lantas menjadi
sesuatu yang haram. Yang harus dijauhkan dari penglihatan. Tutup mata, tutup
telinga. Karena apa? Melihat orang tidak bahagia saja sudah bisa bikin
orang-orang semacam itu ikut2an tidak bahagia! Trauma mungkin ya karena dulu
pernah hidupnya sangat melarat? Banyak loh orang-orang seperti gitu! Ga
percaya? Buktinya sekarang Pemda Jakarta sedang menggodok Perda yang bakal
menjatuhkan sangsi buat pengemudi mobil yang memberi uang ke tukang minta-minta
dan anak2 jalanan. Itu Perda gila! Sejak kapan hak kita untuk "Memberi" harus
diatur oleh undang-undang? Hukum kemanusiaan yang sejati sudah mau direduksi
oleh hukum buatan manusia-manusia yang anti ketidakbahagiaan!

Buat gw hanya ada satu jalan keluar! Buang konsep
bahagia. Coret dari kamus kosakata bahasa indonesia. Kenapa? Kalo kita gak
kenal konsep bahagia, berarti kita juga tidak akan mengenal konsep tidak
bahagia. Terus pasti ada yang nanya? Bakal jadi zombie dong kalo gak bisa
ngerasa bahagia dan gak bisa ngerasa bahagia. Jangan salah tangkep, membuang konsep bahagia, bukan berarti kita membuang konsep rasa senang dan sedih, bukan berarti kita
membuang kata tertawa dan menangis. Kita tetap hidup kok, dan justru disitu
letak indahnya hidup, saat kita senang lalu sedih, besoknya tertawa lalu
menangis.

Jadi kalau ada yang nanya apa tujuan hidup gw, gw gak
akan jawab, supaya bahagia, (apalagi ka ujungnya pake embel-embel dunia
akhirat) maruk amat! Ha ha… Balik lagi aja deh ke apa yang udah ditulis di
Quran, kita hidup untuk beribadah. Silahkan artikan sendiri apa itu ibadah.
Yang pasti beribadah itu bukan berarti sama dengan bahagia. Setidaknya itu yang
gw pelajari dari seorang ibu-ibu tua yang setiap dini hari jam 3 sudah harus
berjualan sayur di pinggir pasar kaget selama dua puluh tahun lamanya, setiap
pagi setiap hari. Untuk anak2nya. Mengabdi Hanya untuk mereka.

Bagi orang-orang yang membuang jauh jauh konsep bahagia,
mereka menjadikan kehidupannya seperti sebuah kuil, tempat dirinya bermeditasi,
setiap hari…. di setiap hembusan nafasnya. Ah… betapa damainya jiwa yang
demikian itu.

Jkt, 23 Nov 07, 00:55
- 1 orang yang tidak termasuk 9 dari 10 orang itu-

(Tebak:siapakah saya? Jawab:kakek tua gila!) =D